Masyarakat di Prefektur Niigata, Jepang, kembali menggelar tradisi adu benteng “Ushi no Tsunotsuki” yang telah diwariskan secara turun-temurun. Acara yang berlangsung pada Minggu, 3 Mei 2026, tersebut menarik perhatian banyak penonton yang datang untuk menyaksikan langsung pertarungan khas budaya Jepang itu. Tradisi ini diselenggarakan di wilayah Ojiya dan Nagaoka, yang dikenal sebagai daerah pelestari budaya adu banteng tradisional di Jepang bagian tengah.
Acara tradisi ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Rakyat Takbenda Penting Nasional Jepang, karena memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi bagi masyarakat setempat. Setiap tahunnya, kedua kota tersebut rutin mengadakan beberapa pertandingan selama musim penyelenggaraan berlangsung.
Pada tahun ini, acara Ojiya digelar secara perdana dengan melibatkan 36 ekor banteng. Di setiap pertandingan, dua ekor banteng saling berhadapan dan mendorong satu sama lain dengan kekuatan penuh. Sementara saat pertandingan berlangsung, suasana semakin meriah sebab para pendukung yang disebut “seko” terus meneriakkan kata “yoshita” sebagai dukungan serta semangat selama banteng mereka bertarung.
Meskipun terlihat sengit, tradisi ini memiliki aturan khusus yang bertujuan melindungi hewan-hewan tersebut. Semua pertandingan selalu diakhiri dengan hasil seri agar tidak ada banteng yang mengalami cedera serius. Salah seorang pengunjung berusia 80-an dari Prefektur Nagano mengaku ia baru pertama kali menyaksikan tradisi “Ushi no Tsunotsuki” secara langsung. Ia mengatakan, “Ini pertama kalinya saya datang menonton dan saya bisa merasakan kekuatannya sampai ke kursi penonton.”
Wakil Ketua Asosiasi Promosi Adu Banteng Ojiya, Suzuki Mamoru, mengatakan bahwa mereka ingin terus melestarikan tradisi tersebut agar semakin dikenal oleh banyak orang. Tradisi “Ushi no Tsunotsuki” sendiri akan terus digelar setiap bulan hingga pertandingan penutup musim pada November mendatang.