Pendahuluan

Jepang, negara kepulauan yang terletak di Cincin Api Pasifik, menghadapi tantangan alam yang kompleks sepanjang tahun. Namun, periode September hingga Oktober menjadi salah satu masa paling kritis dalam kalendar cuaca Jepang, di mana musim banjir mencapai puncaknya. Fenomena ini tidak hanya mengancam kehidupan manusia, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan.

Pola Cuaca September-Oktober di Jepang

Transisi Musiman yang Berbahaya

Periode September-Oktober di Jepang ditandai dengan transisi dari musim panas ke musim gugur. Curah hujan cenderung menurun dibandingkan September, dan langit sering lebih cerah, namun justru di sinilah letak kompleksitasnya. Meskipun secara umum curah hujan berkurang menuju Oktober, intensitas hujan yang terjadi pada September seringkali mencapai tingkat ekstrem.

Faktor Meteorologi Pendorong

Peristiwa cuaca ekstrem terjadi dengan frekuensi dan intensitas yang lebih besar. Musim semi, musim panas, dan musim gugur mencatat suhu tertinggi dalam sejarah di seluruh Jepang pada tahun 2024. Perubahan iklim telah mengubah pola cuaca tradisional Jepang, membuat prediksi cuaca menjadi lebih sulit dan cuaca ekstrem menjadi lebih sering terjadi.

Studi Kasus: Banjir Dahsyat September 2024

Tragedi di Prefektur Ishikawa

Pada tanggal 21-23 September 2024, Jepang mengalami salah satu bencana banjir terburuk dalam sejarah modern. Enam orang tewas, dan 10 lainnya hilang menyusul curah hujan yang memecahkan rekor yang memicu banjir dan tanah longsor di prefektur Ishikawa, Jepang.

Dampak Berlipat Ganda

Tragisnya, bencana ini menimpa wilayah yang masih dalam tahap pemulihan. Wilayah tersebut masih berjuang dengan dampak gempa berkekuatan 7,5 magnitude, yang menewaskan 236 orang, menghancurkan bangunan, dan memicu kebakaran besar di awal tahun 2024. Perumahan sementara yang dibangun untuk orang-orang yang kehilangan rumah mereka dalam gempa dikelilingi oleh air banjir berlumpur setinggi beberapa kaki pada akhir pekan, seperti yang ditunjukkan foto-foto.

Kondisi Meteorologi Langka

Peristiwa ini dikaitkan dengan kondisi meteorologi yang sangat langka. Kami sebagian besar mengaitkan peningkatan curah hujan banjir Jepang dengan perubahan iklim yang didorong manusia dan variabilitas iklim alami kemungkinan memainkan peran yang sederhana.

Skala Kerusakan

Rekaman video yang disiarkan NHK TV menunjukkan air banjir cokelat mengubah jalan-jalan menjadi sungai di Wajima, dengan mobil-mobil terendam setengah. Setidaknya 12 sungai di Ishikawa meluap pada hari Sabtu, menurut Kementerian Tanah dan Infrastruktur.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Korban Jiwa dan Evakuasi Massal

Di Suzu, satu orang tewas dan satu lainnya hilang setelah tersapu air banjir. Satu orang lainnya hilang di kota terdekat Noto. Di Wajima, empat orang hilang menyusul tanah longsor di lokasi konstruksi. Mereka berada di antara 60 pekerja konstruksi yang sedang memperbaiki infrastruktur pasca gempa.

Gangguan Infrastruktur

Dalam kasus terburuk, ketika topan melanda, Anda dapat mengharapkan hujan deras dan angin kencang. Hujan bisa berlangsung dari 3 hari hingga setengah hari. Hal ini dapat menyebabkan banjir jalanan dan pasang tinggi di pesisir. Transportasi mungkin terganggu, dengan Shinkansen, kereta api, bus, atraksi, dan toko tutup.

Konteks Perubahan Iklim

Ancaman Terhadap Empat Musim Tradisional

Para ahli memproyeksikan bahwa pemanasan di negara tersebut akan melampaui rata-rata global. Jika perubahan iklim terus berlanjut tanpa terkendali, Jepang berisiko kehilangan empat musim yang dicintainya, menjadi negara dengan hanya dua musim.

Intensitas yang Meningkat

Perubahan iklim telah mengubah karakteristik musim banjir di Jepang. Yang dulunya dapat diprediksi kini menjadi lebih ekstrem dan tidak terduga. Curah hujan yang dahulu terdistribusi merata sepanjang musim kini terkonsentrasi dalam periode waktu yang lebih singkat dengan intensitas yang jauh lebih tinggi.

Upaya Mitigasi dan Penanggulangan

Sistem Peringatan Dini

Peta Risiko Real-time adalah informasi grid berwarna yang menunjukkan seberapa dekat potensi bahaya saat ini dan yang diprediksi dengan kriteria peringatan yang telah ditentukan sebelumnya di setiap titik. Badan Meteorologi Jepang terus mengembangkan sistem peringatan dini yang lebih akurat untuk mengantisipasi bencana serupa.

Operasi Penyelamatan

Tim sedang mencari orang-orang yang hilang setelah hujan mengguyur wilayah Noto, memicu tanah longsor dan banjir. Curah hujan yang belum pernah terjadi sebelumnya — yang mengklaim tujuh nyawa sejauh ini — terjadi saat wilayah tersebut sedang pulih dari gempa bumi yang menghancurkan awal tahun ini.

Tantangan di Masa Depan

Adaptasi Infrastruktur

Jepang menghadapi tantangan besar dalam mengadaptasi infrastrukturnya untuk menghadapi realitas baru perubahan iklim. Sistem drainase, tanggul sungai, dan perencanaan tata kota perlu disesuaikan dengan intensitas hujan yang semakin ekstrem.

Perencanaan Terpadu

Pengalaman banjir September 2024 menunjukkan pentingnya perencanaan terpadu yang mempertimbangkan risiko berganda—dalam hal ini, kombinasi antara dampak gempa bumi yang masih berlangsung dengan bencana banjir.

Kesimpulan

Musim banjir di Jepang pada periode September-Oktober telah berevolusi menjadi ancaman yang lebih kompleks dan berbahaya akibat perubahan iklim. Tragedi September 2024 di Prefektur Ishikawa menjadi pengingat yang menyesakkan bahwa negara ini harus bersiap menghadapi realitas baru di mana bencana alam dapat terjadi dengan intensitas yang lebih besar dan dampak yang lebih luas.

Upaya mitigasi yang komprehensif, sistem peringatan dini yang lebih canggih, dan adaptasi infrastruktur yang berkelanjutan menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini. Sementara Jepang terus berjuang mempertahankan keindahan empat musimnya, adaptasi terhadap perubahan iklim menjadi prioritas utama untuk melindungi nyawa dan penghidupan masyarakatnya.

Referensi:

CTIF International Association of Fire Services. (2024). “Hurricane Season 2024: Six dead and several missing after Japan floods in September.”

CNN. (September 23, 2024). “Ishikawa, Japan: Record rains bring flooding and landslides to quake-stricken region.”

Al Jazeera. (September 21, 2024). “Japan orders thousands to evacuate quake-hit region as rains trigger floods.”

The Japan Times. (September 24, 2024). “Rescue operations continue in flood-hit Ishikawa.”

Nippon.com. (March 5, 2025). “So Long, Spring and Autumn: Japan Losing its Four Seasons to Climate Change.”

Japan Meteorological Agency. “Real-time Risk Map.” https://www.jma.go.jp/bosai/en_risk/

https://www.metrotvnews.com/read/K5nCL9oj-6-orang-tewas-akibat-banjir-yang-dipicu-hujan-deras-di-ishikawa-jepang

https://voi.id/berita/418476/banjir-besar-landa-prefektur-ishikawa-jepang-20-orang-mungkin-terjebak-di-terowongan-akibat-longsor