
Bandung, 17 Juli 2026 – FIB, FH, dan FISIP Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) menyelenggarakan kegiatan Public Lecture bertajuk “Indonesia–Japan Labor Migration: Readiness, Competitiveness, and Future Prospects” pada Jumat, 17 Juli 2026. Kegiatan ini menghadirkan Andi Holik Ramdani, Ph.D., Postdoctoral Researcher di Hashimoto Foundation, Societas Research Institute, Jepang, sebagai narasumber utama.
Public lecture ini diselenggarakan sebagai wadah akademik untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai dinamika migrasi tenaga kerja Indonesia ke Jepang, mulai dari peluang, tantangan, hingga perkembangan kebijakan terbaru yang memengaruhi mobilitas tenaga kerja internasional.
Dalam pemaparannya, Andi Holik Ramdani, Ph.D., menjelaskan bahwa migrasi tenaga kerja telah menjadi bagian penting dari perekonomian global. Meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di negara-negara maju, khususnya Jepang, membuka peluang besar bagi tenaga kerja Indonesia yang didukung oleh bonus demografi. Namun demikian, peluang tersebut juga diiringi dengan meningkatnya persaingan antarnegara pengirim tenaga kerja sehingga kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor yang sangat menentukan.
Materi yang disampaikan mencakup berbagai aspek, mulai dari kondisi demografi Indonesia dan Jepang, teori-teori migrasi internasional, perkembangan program Technical Intern Training Program (TITP) dan Specified Skilled Worker (SSW), hingga perubahan kebijakan imigrasi Jepang melalui rencana penerapan sistem Employment for Skill Development (ETD) yang akan menggantikan TITP pada tahun 2027.
Selain membahas kebijakan migrasi, narasumber juga memaparkan hasil penelitian lapangan yang dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa keputusan generasi muda Indonesia untuk bekerja di Jepang tidak hanya didorong oleh faktor ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh ketertarikan terhadap budaya Jepang, dorongan keluarga, lingkungan sosial, serta kuatnya pengaruh media digital seperti YouTube dan TikTok dalam membentuk persepsi mengenai kehidupan di Jepang.
Andi Holik Ramdani, Ph.D., juga mengulas berbagai tantangan yang masih dihadapi pekerja migran Indonesia, antara lain tingginya biaya keberangkatan, beban utang sebelum bekerja, proses adaptasi budaya, hingga perlindungan hak-hak pekerja. Sebagai perbandingan, beliau turut menjelaskan sistem penempatan tenaga kerja di Jerman melalui program Triple Win serta sistem ketenagakerjaan Korea Selatan yang dinilai memberikan perlindungan dan dukungan yang lebih komprehensif bagi pekerja migran.
Pada sesi akhir, narasumber menekankan pentingnya peningkatan kompetensi bahasa, keterampilan profesional, serta perlindungan terhadap pekerja migran agar Indonesia mampu menghasilkan tenaga kerja yang lebih kompetitif di tingkat global. Menurutnya, keberhasilan migrasi tidak hanya ditentukan oleh kesempatan bekerja di luar negeri, tetapi juga oleh kualitas persiapan sebelum keberangkatan serta sistem perlindungan yang berkelanjutan.
Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Sesi diskusi dimanfaatkan mahasiswa untuk mengajukan berbagai pertanyaan mengenai peluang karier di Jepang, perkembangan kebijakan migrasi terbaru, kesiapan menghadapi pasar kerja internasional, serta prospek kerja melalui jalur Specified Skilled Worker (SSW).
Melalui penyelenggaraan public lecture ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai isu-isu migrasi tenaga kerja internasional, sehingga mampu mempersiapkan diri menghadapi tantangan global sekaligus meningkatkan daya saing sebagai lulusan yang memiliki kompetensi bahasa, budaya, dan profesionalisme yang dibutuhkan di dunia kerja internasional.