Hanami merupakan salah satu budaya yang disukai oleh orang Jepang sejak periode Nara hingga saat ini periode Reiwa. Namun, saat ini tradisi tersebut menghadapi tantangan serius dikarenakan kondisi pohon Sakura yang kian mengkhawatirkan. Pohon-pohon Sakura yang ditanam secara massal pasca-Perang Dunia Kedua mulai mengalami penuaan secara serentak dan rentan tumbang. Agar Hanami tetap dapat dinikmati, upaya penanaman bibit pohon Sakura varietas baru mulai dilakukan, seperti Jindai-akebono yang lebih tahan penyakit dan tidak mudah tumbang, sebagai pengganti dari Somei Yoshino.
Pada 15 April 2025, sebatang pohon Sakura Somei Yoshino tumbang di Kebun Raya Kedua, Institut Penelitian Hutan Tsukuba, Prefektur Ibaraki. Menurut hasil penelitian, tumbangnya pohon Sakura varietas Somei Yoshino ini dikarenakan akar pohon yang sudah sangat lemah. Untungnya tidak ada korban jiwa pada kejadian ini. Dari 12 pohon, 6 di antaranya memiliki lubang di dalam batangnya akibat pembusukan, rasio pembusukan pada rongga pohon-pohon tersebut melampaui 20%, bahkan ada dua di antaranya yang mencapai lebih dari 60%. Hal ini menyebabkan penebangan pada enam pohon tersebut karena dianggap berbahaya. Pohon Sakura bervarietas Somei Yoshino yang tumbang tersebut diperkirakan berusia sekitar 50 tahun.
Meskipun ada beberapa pohon bervarietas ini yang dapat hidup lebih dari 100 tahun seperti di Kebun Raya Koishikawa, para peneliti menunjukkan bahwa kualitas pohon tersebut akan menurun ketika menginjak umur di atas 50 hingga 60 tahun. Pada usia 50 hingga 60 tahun, bunga mulai jarang mekar dan dahan yang mati mulai terlihat jelas. Peneliti menetapkan bahwa ini adalah batas usia pohon Sakura sebagai pohon hias.
Selain daerah di atas, terdapat juga masalah serupa yang terjadi pada daerah lainnya, seperti Chidorigafuchi (Tokyo) dan Sungai Kaizo (Prefektur Mie). Tanggal 2 April di daerah Chidorigafuchi, sebatang pohon Somei Yoshino yang dikelola oleh pemerintah tumbang. Lalu pada Prefektur Mie yakni di Sungai Kaizo, terjadi pembatalan festival sakura dikarenakan pohon-pohon yang ditanam sudah sangat tua dan dinyatakan berbahaya. Pohon-pohon ini diperkirakan ditanam sekitar era Showa 20-an (1945-1954).
Somei Yoshino memang terkenal dengan bunganya yang sangat indah dan pertumbuhannya yang cepat, hal ini juga yang membuat pohon ini ditanam secara massal pada waktu yang bersamaan pascaperang selesai. Namun, dikarenakan pohon ini memasuki masa lansia, hal ini dapat menjadi masalah yang membahayakan dan mungkin orang-orang tidak dapat menikmati Hanami lagi di masa yang akan datang.
Oleh karena itu, muncullah gerakan agar Hanami dapat dinikmati di masa yang akan datang. Pada akhir Maret, sekitar 90 siswa kelas 6 SD Gotenyama menanam tiga bibit Sakura berusia lima tahun di Gotenyama Trust City dekat Stasiun JR Shinagawa. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan rasa memiliki pada generasi muda agar tradisi Hanami tetap berlanjut. Di daerah yang sama, tercatat 81 pohon Sakura yang tertanam, di mana 43 di antaranya adalah varietas Somei Yoshino. Mengingat usia dari pohon-pohon tersebut sudah di atas 50 tahun, manajemen Mori Trust merasa perlu meninjau ulang sistem pemeliharaan karena adanya risiko pohon tidak lagi berbunga atau bahkan tumbang.
Bibit yang ditanam para siswa ialah Jindai-akebono dan Yokohama-hizakura. Kedua varietas ini dipilih karena lebih tahan terhadap penyakit dan memiliki masa penuaan yang lebih lambat dibandingkan pendahulunya Somei Yoshino. Keterlibatan generasi muda ini bertujuan agar mereka tumbuh bersama pohon tersebut, salah satu siswa berharap bisa melihat bunga tersebut bersama adiknya di masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa Hanami adalah jembatan antargenerasi, bukan hanya sekadar budaya semata.