Sakura di Jepang diperkirakan akan mekar lebih awal dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah lembaga prakiraan cuaca di Jepang telah merilis prediksi waktu mekarnya bunga sakura di beberapa kota besar, yang menjadi penanda datangnya musim semi di negara tersebut.
Menurut perkiraan dari Japan Weather Association, bunga sakura diperkirakan mulai mekar paling awal di kota Tokyo dan Fukuoka, yaitu sekitar 20 Maret. Sementara itu, di Osaka sakura diprediksi mulai mekar pada 24 Maret.
Lembaga tersebut menjelaskan bahwa fenomena mekarnya sakura lebih cepat tahun ini berkaitan dengan kondisi cuaca pada awal tahun. Pada bulan Januari, Jepang mengalami beberapa hari dengan suhu yang sangat dingin, sedangkan pada bulan Februari tercatat lebih banyak hari dengan suhu yang relatif hangat. Kombinasi suhu dingin yang diikuti oleh peningkatan suhu ini mempercepat proses pembentukan dan perkembangan kuncup bunga sakura.
Prediksi lain juga disampaikan oleh perusahaan prakiraan cuaca Weather Map Co., Ltd. Perusahaan tersebut memperkirakan bahwa sakura di Tokyo akan mulai mekar pada 16 Maret, di Fukuoka pada 17 Maret, dan di Osaka pada 22 Maret. Perbedaan prediksi ini menunjukkan bahwa waktu mekarnya sakura sangat dipengaruhi oleh dinamika suhu dan kondisi iklim di masing-masing wilayah.
Musim mekarnya sakura merupakan salah satu momen paling dinantikan di Jepang. Setiap tahun masyarakat Jepang menikmati tradisi Hanami, yaitu kegiatan berkumpul di taman atau ruang terbuka untuk menikmati keindahan bunga sakura yang sedang bermekaran. Taman-taman terkenal seperti Ueno Park dan Maruyama Park biasanya dipadati pengunjung yang ingin menikmati pemandangan sakura bersama keluarga, teman, maupun rekan kerja.
Selain memiliki nilai estetika, sakura juga memiliki makna simbolis yang mendalam dalam budaya Jepang. Bunga ini sering diasosiasikan dengan konsep keindahan yang bersifat sementara, sebuah nilai yang dikenal dalam estetika Jepang sebagai Mono no Aware, yaitu kesadaran akan kefanaan kehidupan dan penghargaan terhadap keindahan yang singkat.
Bagi mahasiswa dan peneliti dalam bidang studi Jepang, fenomena musim sakura tidak hanya menarik dari sisi budaya, tetapi juga menjadi objek kajian dalam berbagai disiplin ilmu, seperti linguistik, kajian budaya, pariwisata, hingga komunikasi antarbudaya. Tradisi hanami juga sering menjadi sarana interaksi sosial yang memperkuat hubungan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan mekarnya sakura yang diprediksi lebih awal tahun ini, masyarakat Jepang maupun wisatawan dari berbagai negara diperkirakan akan kembali memadati berbagai lokasi hanami untuk menikmati keindahan musim semi yang khas di Jepang.
(Sumber: NHK Jepang https://news.web.nhk/)